Ingin ku menuliskan sirah Rasulullah di masa dakwah secara terang-terang hingga isra mi'raj namun sangat panjang sehingga saya hanya mengambil beberapa kisah yang membuatku tertarik
Ada beberapa hal yang membuatku tertarik hingga membuat hati ini ikut merasakan bahagia dan juga sesak.
1. Di masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mulai menampakkan dakwah
Saat Rasulullah menampakkan dakwahnya atas perintah Allah. Menyeru bangsa Arab untuk meniadakan uluhiyyah kepada selain menyebutkan kedudukan berhala dan hakikatnya yang sama sekali tidak memiliki nilai. Beliau menjelaskan bahwa siapa yang menyembah berhala dan menjadikannya sebagai wasilah antara dirinya dan Allah, maka berada dalam kesesatan yang nyata.
Makkah berpijar dengan api kemarahan tatkala mereka mendengar suara yang memperlihatkan kesesatan orang-orang musyrik dan para penyembah berhala. Orang-orang Quraisy bangkit untuk menghadang revolusi yang datang secara tak terduga dan dikhawatirkan akan merusak tradisi warisan mereka.
Mereka menyadari bahwa makna iman kepada risalah dan hari akhirat adalah ketundukan dan kepasrahan secara total, sehingga mereka tidak lagi mempunyai pilihan terhadap diri dan harta mereka, terlebih lagi terhadap orang lain. Dengan kata lain, iman itu akan melumatkan kepemimpinan dan keunggulan mereka di atas semua bangsa arab, mereka harus menetapkan keridaan sesuai dengan keridaan Allah dan Rasul-Nya, harus menghentikan berbagai bentuk kezhaliman yang sebelum itu biasa mereka lakukan untuk menindas rakyat awam.
Sejenak terlintas dipikiranku "apa jadinya apabila aku hidup di zaman Rasulullah, apakah aku berada di sisi para sahabat yang mempercayai risalah yang di sampaikan oleh Rasulullah ataukah berada di posisi kaum Quraisy yang menolak agama ini dan berusaha untuk membunuh Rasulullah?" Ah, aku tak bisa membayangkannya.
Setelah terlintas hal itu, aku langsung bersyukur kepada Allah yang telah melahirkanku dari rahim seorang ibu yang beragama Islam, memberikan nikmat kepadaku berada di agama yang hanif ini, nikmat Islam dan Iman, nikmat hidayah berada di atas manhaj Rasulullah dan para sahabat -radhiallahu 'anhum ajma'in-
Sudah sepatutnya kita bersyukur dengan nikmat yang paling berharga ini. Memang semua orang terlahir dalam fitrah Islam, namun tidak semua orang bisa lahir dari orang tua dan lingkungan yang muslim yang kemudian tetap menjaga fitrah mereka dan mengajarkan mereka tentang Islam sejak masih kecil.
Mulai saat itu berbagai cobaan diterima oleh Rasulullah; ejekan, penghinaan, olok-olokan, dihina, mengatakan Al-Qur'an adalah dongeng, bahkan mereka menyakiti dan melakukan percobaan pembunuhun kepada Rasulullah, melarang ke Masjidil Haram dan berbagai siksaan lainnya.
Gangguan dan siksaan seperti di atas tidak membuat Rasulullah mundur dari jalan dakwah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki kepribadian yang luar biasa, kesabaran yang tinggi, iman kepada Allah, rasa tanggung jawab yang tinggi dan percaya bahwa keberhasilan akan datang kepada Islam dan disamping itu beliau masih mendapat perlindungan dari Abu Thalib, orang yang paling disegani dan dihormati di Makkah.
Tetapi bagi muslim yang lemah di siksa dengan berbagai macam tekanan dan siksaan, siapapun yang masuk Islam akan mendapat penyiksaan. Langkah bijaksana yang diambil Rasulullah dalam menghadapi tekanan itu, beliau melarang orang-orang Muslim menampakkan keislamannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, beliau tida menemui mereka kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebab jika sampai diketahui oleh mereka, tentu orang-orang musyrik berusaha menghalangi usaha beliau untuk mensucikan jiwa orang-orang muslim dan mengajarkan Al-Qur'an. Bahkan mereka dihalangi untuk hijrah ke tempat yang dimana terdapat keadilan disana yaitu di Habasyah.
Namun, di masa yang sulit seperti ini Allah datangkan pertolongan melalui dua orang pemuka Quraisy yang sangat disegani yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib -salah satu paman Rasulullah- dan Umar bin Khattab. Seperti menjadi sebuah kehormatan dan kekuatan baru dan kegembiraan bagi orang-orang muslim mendengar Umar masuk Islam. Aku pun yang membaca bagian ini ikut merasakan kebahagiaan mendengar bahwa Umar masuk Islam.
Lihatlah bagaimana beraninya sosok umar sampai-sampai beliau dijuluki Al-Faruq (yang memisahkan antara haq dan batil) oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Umar berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran, mati maupun hidup?"
"Benar", Beliau menjawab, "Demi diriku yang ada di Tangan-Nya sesungguhnya kalian berada di atas kebenaran, hidup maupun mati"
"Lalu mengapa kita masih sembunyi-sembunyi?" tanya umar, "Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, lebih baik jika kita keluar."
Lalu Rasulullah mengeluarkan Umar dan Hamzah untuk memasuki Masjidil Haram.
Ibnu Mas'ud berkata: "Orang-orang muslim hampir-hampir tidak bisa mendirikan shalat di dekat Ka'bah hingga Umar Masuk Islam."
Dari Ibnu Mas'ud dan Anas, Sebelumnya Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam berdo'a: "Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling engkau cintai, dengan Umar Bin Khaththab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam." Ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah Umar Bin Khaththab.
Wah masyaallah dengan keberanian umar membangkitkan semangat umat islam saat itu, orang-orang Islam pun jadi lebih kuat dan berani perlawanannya terhadap orang-orang yang berlaku kasar kepada mereka.
2. Tahun Berduka, Kematian Abu Thalib
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Al-Musayyab, bahwa tatkala ajal menghampiri Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menemuinya, yang saat itu di sisinya ada Abu Jahal.
"Wahai paman, ucapkanlah laa ilaha illallah, satu kalimat yang dapat engkau jadikan hujjah di sisi Allah." Sabda Beliau
Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah menyela: "Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak menyukai agama Abdul Muththalib?" Keduanya tak pernah berhenti mengucapkan kata-kata ini, hingga pernyataan terakhir yang diucapkan Abu Thalib, "Tetap berada pada agama Abdul Muththalib."
Beliau bersabda: "Aku benar-benar akan memohon ampunan bagimu wahai paman selagi aku tidak dilarang melakukannya. Lalu turun ayat:
"Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam," (At-Taubah: 113)
Allah juga menurunkan ayat,
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk," (Al-Qashash; 56)
Sedih dan nyesak banget rasanya, membaca kisah Abu Thalib sosok paman yang selalu melindung Rasulullah untuk menyampaikan risalah yang diberikan oleh Allah harus meninggal dalam keadaan kafir. Namun Allah-lah yang lebih mengetahui isi hati seseorang.
Dari sini kita juga bisa belajar bahwa hidayah taufik itu mutlak dari Allah, sekelas Rasulullah saja tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang bisa dibilang berjasa dalam hidup Rasulullah, apalagi kita yang hanya manusia biasa.
Dan tak ada yang bisa menjamin juga bahwa diri ini akan terus berada dalam hidayah Islam karena Allah mengetahui isi hati seseorang, mudah saja bagi Allah untuk membuat kita sesat dan kafir -Allahul musta'an wa audzhubillah-, untuk itu jagalah hidayah yang sangat mahal ini dengan terus menjalankan ketaatan, menjauhi larangannya serta selalu memohon kepada Allah agar selalu dikokohkan hati ini di atas Islam.
Tidak hanya paman beliau yang meninggal, namun istri tercinta beliau, Ummul Mukminin Ibunda Khadijah juga meninggal selang dua atau tiga bulan meninggalnya Abu Thalib.
Duka yang bertumpuk-tumpuk di rasakan oleh Rasulullah, belum lagi kaum Quraisy semakin bersemangat untuk menyakiti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam setelah paman beliau meninggal. Karna hal itu beliau menyebutkan sebagai "Amul-Huzni" (tahun duka cita).
3. Peristiwa Isra' dan Mi'raj
Seperti yang kita tau dari peristiwa Isra' dan Mi'raj ini turunlah perintah shalat sebanyak lima puluh kali namun pada akhirnya Allah tetapkan dan ringankan menjadi lima kali, dan jika kita membaca kembali peristiwa ini, betapa besar peristiwa ini bahkan kita tidak bisa memikirkannya dengan akal kita yang terbatas, kita umat islam cukup mengimaninya. Inilah salah satu bukti kebesaran Allah, keagungan Allah dan kekuasaan Allah yang diperlihatkan melalui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Namun, ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengabarkan peristiwa ini kepada kaumnya, mereka bukannya percaya bahwa benar Muhammad adalah utusan Allah, lalu beriman kepada risalah yang disampaikan oleh Rasulullah tapi mereka malah semakin menjadi-jadi dalam mendustakan dan mengejek beliau hingga lari menjauhkan diri.
............................................................................
Palu, 5 Januari 2020
Mutmainnah Setiara
#tantanganbacasiroh
-----------------------------------------------------------
Penggalan cerita dikutip dari Sirah Nabawiyyah Karya Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri.
Comments
Post a Comment