A. Masyarakat Arab Jahiliyah
Dimana kondisi sosial pada masyarakat Arab Jahiliyyah penuh dengan perzinaan, seorang suami yang menyuruh istrinya untuk "bercampur" dengan laki-laki lain, menikah dengan banyak istri tanpa batasan, bahkan saudari dan istri bapak-bapak mereka pun dinikahi bila ditalak atau ditinggal mati oleh bapak mereka. Wanita diperjualbelikan, sangat rapuh dan dalam kebutaan.
Namun ada yang menarik bagiku di bab ini, dimana masyarakat arab jahiliyyah memiliki akhlak yang membuatku kagum bahkan juga mungkin membuatmu kagum bagi yang sudah membacanya.
Diantara akhlak mereka yang membuatku kagum adalah kedermawanan, mereka rela menyembelih seekor onta satu-satunya milik mereka untuk dihidangkan kepada seorang tamu yang kedinginan dan kelaparan, yang bahkan pada saat itu mereka pun tak memiliki harta kecuali seekor onta tersebut. Mereka lakukan karena kedermawanan yang tertancap dalam hati mereka. Bahkan dari sifat ini juga yang membuat mereka rela bermain judi, yang dimana laba dari bermain judi digunakan untuk memberi makan orang miskin.
Tidak hanya kedermawanan, kesederhanaan pola kehidupan badui juga membuat kagum. Mereka tidak mau dilumuri warna-warni peradaban dan gemerlapnya, hasilnya adalah kejujuran, dapat dipercaya, dan meninggalkan dusta dan pekhianat.
Akhlak-akhlak yang sangat berharga inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa mereka dipilih untuk mengemban beban risalah yang menyeluruh, pemimpin umat manusia dan masyarakat dunia. Sebab akhlak ini meskipun sebagiannya dapat membawa kepada kejahatan dan menimbulkan peristiwa yang tragis, namun sebenarnya ia adalah akhlak yang amat berharga, dan akan menciptakan keuntungan bagi umat manusia secara umum setelah adanya sedikit koreksi dan perbaikan atasnya. Dan hal inilah yang dilakukan oleh Islam ketika datang.
Dan masih banyak akhlak lainnya yang membuat kagum
B. Nasab Nabi Hingga Kelahiran Nabi dan Empat Puluh Tahun Sebelum Nubuwah
Sejak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam belum lahir, Allah telah mempersiapkan orang tua yang baik dan hebat untuk beliau yaitu 'Abdullah dan Aminah.
'Abdullah adalah anak yang bersih jiwanya dan kesayangan 'Abdul Muththalib, kakek Nabi. 'Abdullah adalah anak yang penurut kepada orang tua. 'Abdullah pernah hampir menjadi sesembelihan ayahnya dikarenakan nazarnya, dan 'Abdullah tidak menolak. Namun, atas izin Allah, ayah Nabi gagal untuk disembelih karena tergantikan dengan seratus ekor unta.
Aminah bint Wahb ibunda Nabi adalah wanita yang paling baik nasabnya dan kedudukannya di kalangan Quraisy.
Namun, sejak beliau lahir, beliau telah yatim karena ayahnya meninggal lebih dulu sebelum beliau dilahirkan. Beliau diberi nama oleh kakenya yaitu Abdul Muththalib dengan nama, Muhammad.
Setelah Allah mempersiapkan orang tua yang paling baik nasabnya dan terhormat untuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Allah juga telah mempersiapkan untuknya menjadi Nabi dan Rasul ketika lahir.
Ketika Aminah mengandung Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ia melihat sinar keluar dari perutnya, dan karena sinar tersebut istana-istana Syam menjadi bercahaya. Ketika Nabi disusui oleh Halimah, Nabi memberikan barakah kepada Halimah -atas izin Allah-. Tidak hanya itu, ketika Nabi bersama saudaranya di belakang rumah sedang menggembalakan kambing, tiba-tiba dua orang berpakaian putih datang kepadanya, kedua orang tersebut mengambil Nabi lalu membelah perut Nabi, mengeluarkan hatinya, membelahnya, mengeluarkan gumpalan hitam dari hatinya, dan membuangnya.Para ahli kitab di zaman itu telah mengetahui tanda-tanda kenabian yang ada pada diri Nabi karena tanda-tanda itu telah dijelasakan pada kitab mereka.
Beberapa ahli kitab berusaha ingin membunuh Rasulullah Shallahu 'Alaihi wa Sallam, namun atas pertolongan Allah salah seorang pendeta yang bernama Buhaira -pendeta yang pertama kali menemukan tanda kenabian di diri Nabi Muhammad- melindungi Nabi Muhammad, Buhaira menasihati ahli kitab kitab lainnya untuk tidak membunuh nabi karena mereka tidak akan bisa membunuh bahkan mendekati Nabi. Allah selalu melindung Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ibnu Ishaq berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam semakin besar. Allah Ta 'ala memeliharanya, dan melindunginya dari kotoran-kotoran jahiliyah, karena Allah berkehendak memuliakannya dan memberikan risalah kepadanya, hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi orang yang paling ksatria di kaumnya, paling baik akhlaknya, paling mulia asal-usulnya, paling baik pergaulannya, paling agung sikap santunnya, paling benar tutur katanya, paling agung kejujurannya, paling jauh dari keburukan, dan paling jauh dari akhlak-akhlak yang mengotori orang laki-laki, hingga akhirnya kaumnya menggelarinya Al-Amin karena Allah mengumpulkan pada beliau hal-hal yang baik.
Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menginjak umur dua puluh lima tahun Allah pun telah menyiapkan istri untuk beliau. Seorang wanita yang mulia nasabnya, terhormat, cerdas, berpendirian kuat dan wanita terkaya. Semua orang Quraisy ingin menikahinya, namun hanya Nabi lah yang membuatnya tertarik dikarenaka akhlak, kejujuran dan tutur kata Nabi.
Dialah Khadijah Bint Khuwailid. Istri pertama Rasululullah Shallahu 'Alahi wa Sallam. Beliau tidak menikah dengan wanita lain semasa Khadijah -radhiallahu 'anha- masih hidup, dan baru menikah setelah Khadijah meninggal.
Khadijah adalah istri yang melahirkan semua anak-anak Rasulullah kecuali ibrahim. Putra-putri beliau dari Khadijah adalah: 1) Al-Qasim (dimana nama kunyah beliau diambil darinya, yaitu Abu Qasim). 2) Zainab. 3) Ruqayyah. 4) Ummu Kultsum. 5) Fathimah. 6) 'Abdullah (Julukannya adalah ath-Thayyib dan ath-Thaahir). Semua putra beliau meninggal ketika masih kecil sedangkan putri-putri beliau semuanya hidup pada masa Islam, menganutnya dan juga ikut berhijrah namun semuanya meninggal dunia semasa beliau Shallallahu 'alaihi wasallam masih hidup kecuali Fathimah radhiallâhu 'anha yang meninggal enam bulan setelah beliau wafat.
Pada Masa Pembangunan Ka'bah
Lima tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasulullah, Mekkah dilanda banjir besar dan airnya meluap mencapai pelataran al-Baitul Haram sehingga mengakibatkan bangunan ka'bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya untuk menjaga reputasinya dan bersepakat untuk tidak membangunnya dari sembarang sumber dana selain dari sumber usaha yang baik; mereka tidak mau memakai dana dari mahar hasil pelacuran, transaksi ribawi dan hasil pemerasan terhadap orang-orang.
Tatkala pengerjaan tersebut sampai ke al-Hajar al-Aswadi, mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak untuk meletakkannya ke tempat semula dan pertikaian tersebut berlangsung selama empat atau lima malam bahkan semakin meruncing sehingga hampir terjadi peperangan yang maha dahsyat di tanah al-Haram. Untunglah, Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi menengahi dan menawarkan penyelesaian pertikaian diantara mereka lewat perundingan damai, caranya; siapa yang paling dahulu memasuki pintu masjid diantara mereka maka dialah yang berhak meletakkannya. Tawaran ini dapat diterima oleh semua dan atas kehendak Allah Ta'ala, Rasulullah lah yang menjadi orang pertama yang memasukinya. Tatkala mereka melihatnya, dia disambut dengan teriakan: "inilah al-Amiin! Kami rela! Inilah Muhammad!". Dan ketika beliau mendekati mereka dan diberitahu tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan al-Hajar al-Aswad ditengahnya, lalu pemimpin-pemimpin kabilah yang bertikai tersebut diminta agar masing-masing memegang ujung selendang dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya tinggi-tinggi hingga manakala mereka telah menggelindingkannya dan sampai ke tempatnya, beliau Shallallahu 'alaihi wasallam mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang diridhai oleh semua pihak.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Palu, 30 Desember 2019
Mutmainnah Setiara
#tantanganbacasirah
------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi:
1. Terjemahan Kitab Ar-Rahiqul Makhtum, Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury
2. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam
Comments
Post a Comment